2 mins read

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

Di lingkungan pesantren, istilah alim bukan sekadar gelar bagi mereka yang banyak hafal kitab atau fasih berbahasa Arab. Alim adalah sosok yang ilmunya hidup—tercermin dalam adab, laku, dan kesanggupan menjaga diri dari hal-hal yang merusak nilai ilmu itu sendiri. Dalam tradisi pesantren, alim bukan hanya tahu, tetapi juga tunduk pada ilmu yang ia miliki.

Namun, ada ironi yang kerap luput dari perhatian: hal-hal kecil, yang tampak sepele, justru perlahan menggerogoti kealimannya. Ia tidak datang sebagai badai, melainkan seperti rayap—diam, tak terasa, tapi pasti merusak.

Pertama, kesibukan duniawi. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi ketika ia menyita perhatian berlebihan, ilmu kehilangan ruang untuk bernapas. Seorang alim yang terlalu larut dalam urusan dunia—entah bisnis, jabatan, atau popularitas—pelan-pelan menjauh dari ruh keilmuannya. Ilmu yang dulu diasah tiap hari, kini hanya sesekali disapa.

Kedua, banyak utang. Dalam kultur pesantren, utang bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga beban batin. Pikiran yang terbelenggu cicilan dan tagihan sulit khusyuk dalam belajar dan mengajar. Ilmu membutuhkan ketenangan, sementara utang kerap menghadirkan kegelisahan yang tak kasat mata.

Ketiga, memikirkan hal di luar bidangnya. Ini bukan larangan untuk belajar hal baru, melainkan peringatan terhadap kecenderungan latah: ingin bicara semua hal, merasa perlu berpendapat atas segala isu. Akibatnya, fokus tercerai-berai. Ilmu yang seharusnya diperdalam justru dangkal karena energi tersedot ke hal-hal yang bukan ranahnya.

Keempat, kesombongan yang halus, merasa sudah cukup, enggan belajar lagi. Ini mungkin yang paling berbahaya. Di pesantren, senioritas dihormati, tetapi bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Ketika seseorang merasa “sudah alim”, di situlah awal kemundurannya. Ilmu tidak suka menetap pada hati yang tertutup.

Lalu, bagaimana menjaga agar ilmu tetap awet?

Jawaban klasik pesantren tetap relevan: muthola’ah—mengulang, membaca, dan menghidupkan kembali pelajaran setiap ada kesempatan. Ilmu bukan benda mati yang cukup disimpan; ia harus terus disentuh agar tidak pudar. Bahkan ulama besar pun dikenal tak pernah berhenti muthola’ah, seolah mereka selalu merasa masih di awal perjalanan.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, menjaga kealiman memang bukan perkara mudah. Tapi justru di situlah letak ujiannya: apakah ilmu hanya menjadi identitas, atau benar-benar dijaga sebagai amanah.

Karena pada akhirnya, yang menggerogoti alim bukanlah hal besar yang tampak jelas, melainkan perkara-perkara kecil yang dibiarkan terus-menerus. Dan yang menjaga ilmu tetap hidup, sering kali juga bukan sesuatu yang spektakuler—cukup kesetiaan pada hal-hal sederhana yang dilakukan tanpa henti.

Sekayu 2 Syawal 1447.H
Daud Sobri Ketua LDII Muba & Ponpes Taufiqurrohman Sungai Lilin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *