Ketua Umum DPP LDII: Rakyat dan Polri Harus Saling Percaya dan Dekat
3 mins read

Ketua Umum DPP LDII: Rakyat dan Polri Harus Saling Percaya dan Dekat

Jakarta, (30/6) ldiimuba.or.id — Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memperingati Hari Bhayangkara ke-79 dengan mengusung tema “Polri untuk Masyarakat”. Peringatan ini menjadi momen reflektif atas kontribusi Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Indonesia.

Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Polri dalam menjalankan tugasnya. “Polri hadir untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kami melihat adanya komitmen nyata dari institusi ini untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kualitas pelayanan,” ungkap KH Chriswanto.

Ia menambahkan, reformasi kelembagaan yang dilakukan Polri menunjukkan hasil positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat. “Mulai dari pemberantasan premanisme, judi, dan narkoba, hingga penyederhanaan birokrasi layanan publik serta respons cepat dalam menangani isu-isu hukum dan keamanan,” jelasnya.

Menurut KH Chriswanto, keberhasilan ini perlu disambut dengan rasa syukur dan dukungan dari masyarakat. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya antara Polri dan rakyat. “Jika tidak ada kepercayaan, maka hukum rimba yang akan berlaku. Padahal kita adalah bangsa yang beradab dan berlandaskan Pancasila,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendukung tugas Polri. Ketidakhadiran aparat hukum di wilayah tertentu dapat memicu konflik dan ketidakamanan. “Tanpa kehadiran polisi dalam satu malam saja, lingkungan bisa menjadi tidak aman,” ujarnya.

Untuk membangun kedekatan, KH Chriswanto menekankan perlunya menjadikan masyarakat sebagai subjek hukum, bukan objek. “Ketika masyarakat diposisikan sebagai objek hukum, maka akan timbul rasa takut dan jarak dengan kepolisian. Jangan sampai masyarakat merasa takut bahkan sebelum melapor,” jelasnya.

DPP LDII meyakini bahwa Polri juga mengedepankan pendekatan yang edukatif. Salah satunya terlihat dari kolaborasi antara kepolisian dan pesantren-pesantren binaan LDII. “Setiap bulan, pondok pesantren di lingkungan LDII mengundang pihak kepolisian untuk memberikan penyuluhan mengenai hukum, bahaya narkoba, etika bermedia sosial, keselamatan berlalu lintas, hingga peran masyarakat dalam menjaga kamtibmas,” terang KH Chriswanto.

Contohnya, di Ponpes Wali Barokah, Polda Jawa Timur aktif memberikan penyuluhan mengenai bahaya radikalisme dan narkoba. Sementara itu, di Ponpes Al Ubaidah, para calon juru dakwah LDII mendapat pembekalan dari Polri mengenai isu kenakalan remaja, bahaya media sosial, perundungan, dan lainnya. “Tujuannya agar para dai tidak hanya paham hukum, tetapi juga menjauhi pelanggaran hukum,” tambahnya.

KH Chriswanto menegaskan bahwa sinergi antara Polri dan masyarakat merupakan kunci terciptanya kamtibmas yang kokoh. “Ketertiban dan keamanan masyarakat adalah modal sosial penting untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional,” katanya.

Senada dengan Ketua Umum, Sekretaris Umum DPP LDII, Dody T. Wijaya, menyoroti tantangan baru yang dihadapi Polri di era digital. “Keamanan masyarakat kini tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Polri harus adaptif, akomodatif, dan responsif terhadap dinamika seperti hoaks, ujaran kebencian, radikalisme daring, dan kejahatan siber,” ujar Dody.

Meski begitu, ia menegaskan pentingnya pendekatan Polri yang tetap mengedepankan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. “Polri perlu hadir bukan semata sebagai penegak hukum, tapi juga sebagai pendidik. Literasi digital, kampanye internet sehat, dan kerja sama dengan platform digital harus terus diperkuat,” tambahnya.

Menurut Dody, kehadiran polisi di tengah masyarakat tetap penting. Patroli lingkungan, penyuluhan hukum, hingga keterlibatan di sekolah dan pesantren adalah bentuk nyata pendekatan humanis Polri.

Memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Dody berharap Polri terus tumbuh menjadi institusi yang profesional, modern, dan dicintai rakyat. “Transparansi, integritas, serta keterbukaan terhadap kritik dan pembelajaran harus terus ditingkatkan,” tutupnya.

Ia meyakini bahwa pendekatan yang terbuka, humanis, dan penuh empati akan memperkuat kepercayaan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di ranah digital.(ds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *