Cendekiawan NU Luncurkan Buku Kajian Sistem Pendidikan LDII
3 mins read

Cendekiawan NU Luncurkan Buku Kajian Sistem Pendidikan LDII

Jakarta, (12 /3)– Akademisi Universitas PTIQ Jakarta sekaligus cendekiawan dari Nahdlatul Ulama, Ahmad Ali, meluncurkan buku berjudul “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius, dari Sabang sampai Merauke” di Sinabung Eight, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).

Buku tersebut membahas sistem pendidikan dan pembentukan karakter yang diterapkan oleh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di berbagai daerah di Indonesia. Peluncuran buku yang diterbitkan oleh Deepublish Yogyakarta itu juga diikuti diskusi bersama sejumlah pakar pendidikan Islam.

Ahmad Ali mengatakan ketertarikannya meneliti LDII berawal dari berbagai pandangan negatif yang ia dengar sejak 2001. Ia kemudian melakukan penelitian langsung untuk memahami praktik pendidikan dan kehidupan beragama di lingkungan organisasi tersebut.

“Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak mereka ketahui. Karena itu saya ingin memahami sistem mereka secara objektif,” ujar Ahmad Ali dalam acara tersebut.

Menurut dia, penelitian tersebut mengungkap bahwa perilaku positif warga LDII tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia. Sistem tersebut mencakup pembiasaan nilai moral, penguatan praktik kebersihan dan kesucian, serta penerapan konsep karakter yang disebut 29 Karakter Luhur.
Ahmad Ali menilai pendekatan pendidikan tersebut menjadi landasan terbentuknya karakter “profesional religius” di kalangan warga LDII.

Dalam diskusi buku itu, Guru Besar Pendidikan Agama Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dede Rosyada, menilai model pendidikan yang dijalankan LDII telah mengintegrasikan pembelajaran agama dengan penguatan keterampilan praktis.
Menurut dia, orientasi pendidikan tersebut memungkinkan lulusan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Pendidikan formal yang dikembangkan memiliki orientasi keterampilan sesuai kondisi lokal, sehingga lulusan memiliki bekal kemampuan yang dapat digunakan dalam dunia kerja,” kata Dede.

Ia menambahkan pendekatan tersebut juga sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional melalui program Merdeka Belajar, yang menekankan pengembangan kompetensi selain pencapaian akademik.

Sementara itu, Ketua LDII Musi Banyuasin, H. Daud Sobri, mengaku pernah menghadiri kegiatan bedah buku karya Ahmad Ali yang digelar di rumah dinas Wali Kota Palembang beberapa waktu lalu. Ia mengapresiasi upaya Ahmad Ali yang meneliti langsung praktik pendidikan di lingkungan LDII.

Menurut Daud Sobri, Ahmad Ali melakukan pengamatan lapangan selama sekitar dua tahun dengan mendatangi berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.
“Mas Ali benar-benar mendatangi sumber primer dari buku yang beliau tulis. Jadi bukan hanya berdasarkan cerita atau katanya-katanya, tetapi data yang dihimpun langsung dari lapangan,” ujar Daud Sobri.

Ia juga menyambut baik terbitnya buku jilid kedua tersebut. Menurutnya, kajian tersebut dapat menjadi referensi akademik mengenai sistem pendidikan yang berkembang di lingkungan LDII.

“Alhamdulillah buku kedua sudah diluncurkan. Kami berharap suatu saat Mas Ali bisa hadir kembali di Palembang untuk berbagi gagasan dan pengalaman penelitiannya,” kata Daud Sobri.

Selain Dede Rosyada, diskusi buku ini juga menghadirkan akademisi Nur Afif dan Made Saihu sebagai penanggap. Mereka menyoroti indikator penerapan konsep “profesional religius” dalam praktik pendidikan di lingkungan LDII.
Melalui peluncuran buku ini, para akademisi berharap kajian mengenai sistem pendidikan berbasis nilai keagamaan tersebut dapat menjadi referensi ilmiah sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas tentang praktik pendidikan Islam di Indonesia.(ds)

Lines editor Daud Sobri

One thought on “Cendekiawan NU Luncurkan Buku Kajian Sistem Pendidikan LDII

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *